BARTIMEUS, APA YANG KAU INGINKAN AKU PERBUAT BAGIMU?

Mendengarkan Bartimeus

Potret kekerasan yang akhir-akhir ini makin sering membuat wajah bumi pertiwi berdarah-darah, tentu saja melahirkan sebuah perenungan, yakni apa yang sesungguhnya sedang terjadi di negeri anugerah Tuhan ini? Tidakkah negeri kita ini dihuni oleh orang-orang  yang mengakui kedaulatan Tuhan di atas segala-galanya? Tragedi dan Konflik begitu marak menghiasi wajah media. Entah antar kelompok pemuda, ormas, dan sebagainya. Belum lagi dengan suara para buruh dan kaum tertindas lainnya yang kemudian terpaksa harus berdemonstrasi dengan menutup jalan tol dan mogok makan berhari-hari, meskipun suara hati dan kondisi mereka sendiri sesungguhnya tidak menghendaki hal tersebut.

Mengenai kondisi ini, seorang kawan yang menjadi aktivis buruh mengatakan bahwa demonstrasi seperti ini terpaksa harus dilakukan, sebab suara yang mereka teriakkan berulangkali dari dalam penderitaan mereka, nyaris tak mendapat tanggapan apa-apa. Tangisan dan seruan anak-anak mereka yang sakit, lapar dan tak bisa sekolah, seolah hanya menjadi angin lalu yang tidak punya arti apa-apa. Sehubungan dengan itu, benar kata Ignas Kleden, bahwa kekerasan yang terjadi kini sesungguhnya hanya merupakan reaksi terhadap berbagai bentuk kekerasan vertikal yang dilakukan oleh sejumlah pemangku kekuasaan.[i] Dalam hal ini, kekerasan tampak menjadi jalan bagi kaum marginal untuk keluar dari kebuntuan dialog dan ketidakpedulian para penguasa terhadap penderitaan mereka.

Kisah kehidupan Bartimeus di Yerikho (Mrk.10:46-52) nyaris pula berujung dengan kesia-siaan dan ketidakpeduliaan. Kondisinya yang buta dan pekerjaannya sebagai pengemis, membuat suaranya nyaris tidak bermakna apa-apa. Sebaliknya, kehadiran dan teriakan Bartimeus sang pengemis justru lebih dilihat sebagai pengganggu ketenangan bagi banyak orang. Tak heran jika teriakan minta tolong Bartimeus, justru ditanggapi orang banyak dengan teguran untuk menyuruh  ia diam dan berhenti berteriak. Kehadiran Bartimeus sungguh dipandang tak bernilai apa-apa. Ia tak lebih dari perusak keindahan kota yang harus segera disingkirkan dari keramaian kota, demi mewujudkan kota yang megah dan gemerlapan, meskipun hati para penghuninya sendiri mungkin tetap saja berada dalam kegelapan. Oleh sebab itu, Bartimeus harus diupayakan untuk diam. Jika perlu, sejumlah petugas kebersihan kota dikerahkan untuk mengusir Bartimeus dan rekan-rekannya yang lain. Kehadiran dan teriakan minta tolong Bartimeus tak boleh mengganggu ketenangan orang-orang yang sedang ingin menyaksikan dan menikmati kehadiran Yesus.

Yesus sendiri memperlihatkan reaksi yang berbeda dengan orang banyak. Jika orang banyak sama sekali tidak peduli dengan seruan minta tolong Bartimeus, maka Yesus justru bersikap sebaliknya. Seruan minta tolong Bartimeus telah menarik perhatian Yesus. Untuk  itu Yesus bahkan harus segera menghentikan perjalanan-Nya bersama murid-murid dan orang banyak. Dalam hal ini, seruan minta tolong Bartimeus telah menjadi sebuah hal yang jauh lebih penting bagi Yesus, ketimbang agenda perjalanan Yesus yang tentu sudah dipersiapkan sebelumnya. Suara Bartimeus harus didengarkan. Di tengah kerumunan orang banyak yang mengikuti-Nya, Yesus jelas menampilkan diri-Nya dengan cara yang sangat bertolak belakang dengan para penguasa yang justru bangga berjalan dengan kawalan mobil-mobil patroli dan raungan sirene, demi mewujudkan perjalanan yang bebas hambatan dan terhindar dari gangguan orang-orang seperti Bartimeus.

Bagi murid-murid dan orang banyak yang berjalan bersama-Nya, sikap Yesus ini tentu saja mengajarkan sebuah hal yang penting, yakni perjalanan bersama Tuhan bukanlah sebuah perjalanan untuk dinikmati seorang diri. Kehadiran Tuhan di tengah-tengah mereka bukanlah sebuah kehadiran yang menutup hati dan pendengaran bagi dunia sekitar demi memuaskan hasrat pribadi mereka. Sebaliknya, perjalanan Tuhan bersama mereka justru merupakan perjalanan untuk menghampiri orang-orang seperti Bartimeus. Dalam hal ini, orang-orang seperti Bartimeus-lah yang sesungguhnya menjadi tujuan perjalanan ini. Yesus sendiri mengemukakan maksud kedatangan-Nya dengan jelas, "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang" (Luk.4:18-19).

Bagi para pemangku otoritas, termasuk gereja sendiri, maknanya jelas. Gereja atau para pemangku otoritas yang berjalan tanpa mempedulikan seruan minta tolong Bartimeus, atau bahkan justru merasa terganggu dengan kehadiran Bartimeus, sesungguhnya merupakan gereja yang tidak lagi menyadari arah dan tujuan perjalanannya. Atau mengutip istilah Sri Palupi, sang pemimpin adalah ibarat “pilot yang salah naik pesawat”.[ii] Ia harusnya berada dalam sebuah pesawat mewah dengan para penumpang kelas eksekutif, dan bukannya dalam pesawat yang berisikan para penumpang seperti Bartimeus.

Dalam kondisi yang demikian ini, tidakkah ini ironis? Yang sesungguhnya buta dalam pengertian lebih mendalam, bukanlah Bartimeus, melainkan orang banyak yang berjalan bersama dengan Yesus. Disebutkan demikian, sebab seruan minta tolong Bartimeus kepada Yesus memperlihatkan adanya kesadaran Bartimeus tentang makna kehadiran dan perjalanan Yesus yang sebenarnya. Kondisinya yang miskin dan buta sama sekali tidak menghalangi niatnya untuk berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku”. Sebaliknya, bukankah hal ini justru tersembunyi dari penglihatan dan kesadaran orang banyak yang berjalan bersama Tuhan?

“Rabuni, supaya aku dapat melihat!”

Perhatian Yesus terhadap seruan Bartimeus ternyata tidak hanya berujung pada terhentinya sejenak perjalanan Yesus. Lebih dari itu, Yesus bahkan lebih jauh bertanya kepadanya, “Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?”. Tidakkah ini luar biasa? Yesus tentu saja tahu hal terbaik yang harus Ia lakukan untuk Bartimeus. Namun dengan bertanya pada Bartimeus, Yesus sesungguhnya ingin lebih menegaskan betapa pentingnya suara Bartimeus sebagai seorang pribadi manusia. Jikalau selama ini suaranya selalu diabaikan dan dianggap mengganggu ketenangan sekitar, maka kini suara Bartimeus justru ikut diperhitungkan sebagai penentu proses pembebasan atas dirinya. Oleh Yesus, Bartimeus tidak hanya ditempatkan sebagai objek penerima belas kasihan, tetapi juga sebagai subyek yang ikut terlibat dalam karya pembebasan Allah. Bagi Yesus, Bartimeus bukanlah pengemis dan perusak keindahan kota. Sebaliknya, ia pun dapat diberi ruang dalam upaya perluasan Kerajaan Allah.

Sikap Yesus jelas benar adanya. Meskipun buta, tidak berarti bahwa Bartimeus sama sekali tidak tahu apa yang terbaik bagi dirinya. Meskipun ia adalah pengemis, namun ia tidak mau meminta sedekah yang jelas hanya untuk kepentingan hidup sesaat. Sebaliknya dengan meminta kesembuhan bagi kedua matanya, jelas terlihat betapa Bartimeus cukup mengerti akar persoalan dirinya dan sekaligus juga tujuan hidupnya. Sedekah, berapa pun jumlahnya, tidak akan pernah mengubah hidupnya sebagai pengemis yang harus selalu berharap pada orang lain. Kebutaanlah yang telah menenggelamkan hidupnya sedemikian rupa. Apalagi di tengah kehidupan masyarakat Yahudi yang cenderung melihat penyakit seperti kebutaan sebagai akibat langsung dari dosa (bnd. Yoh. 9:1-2), jelas akan membuat Bartimeus semakin termarginalisasi dalam masyarakat. Disebutkan demikian, sebab sekalipun terdapat hasil usaha atau pertanian yang dimiliki, masyarakat pun kerap kali memboikot atau menolak hasil produksi dari orang-orang yang disebutkan sebagai kelompok orang berdosa. Bisa dibayangkan beratnya beban kehidupan orang-orang seperti Bartimeus. Tidak heran, jika sebagaimana yang dikemukakan oleh Marcus Borg, penyembuhan Bartimeus sesungguhnya bukanlah sebuah penyembuhan jasmani Bartimeus belaka. Lebih dari itu, ini juga merupakan upaya untuk memulihkan kehidupan sosial Bartimeus sepenuhnya.[iii] Sekat-sekat marginal yang selama ini ada, kini diruntuhkan melalui karya Yesus. Bartimeus pun diberi kesempatan yang baru untuk turut serta dalam perjalanan bersama Yesus (Mrk.10:52).[iv]

Tindakan Yesus ini jelas memperlihatkan sebuah pesan penting tentang kepemimpinan-Nya. Pemulihan kehidupan masyarakat menjadi sebuah tujuan yang mendasar. Berbagai bentuk tatanan yang seringkali membelenggu sejumlah orang, harus bisa diruntuhkan. Selain itu, satu hal lain yang penting diingat, adalah terkait dengan keterlibatan kaum marginal itu sendiri. Yesus jelas menghendaki peran aktif mereka. Dalam kisah pemberian makan bagi lima ribu orang yang dikemukakan dalam Injil Markus, pandangan ini juga terlihat jelas. Orang banyak yang terlihat seperti kawanan domba tanpa gembala, ternyata tidak hanya diberi makan oleh Yesus. Lebih dari itu, Yesus pun mengajarkan banyak hal kepada mereka (Mrk. 6:34). Tujuannya tentu saja jelas, yakni memperlengkapi orang banyak agar tak lagi terlihat seperti kawanan domba tanpa gembala yang selalu dengan mudah menjadi mangsa kawanan serigala.

Hal semacam ini tidak jauh berbeda dengan kisah eksodus umat Israel dari tanah Mesir. Proses pembebasan Israel tidak dilakukan Tuhan melalui tangan bangsa-bangsa lain, tetapi justru melalui tangan bangsa Israel sendiri. Yang bertindak sebagai agen pembebasan bukanlah pihak ketiga, yakni bangsa-bangsa lain, melainkan kaum tertindas itu sendiri. Pembebasan umat Israel bukan hanya berarti pembebasan dari belenggu penjajahan Mesir. Lebih dari itu, pembebasan ini juga berarti pembebasan diri mereka dari mentalitas budak yang selalu pasif dan pesimis menatap masa depan, serta tidak antusias untuk mengubah kehidupan mereka menjadi lebih baik.

Belas Kasihan Sang Pemimpin

Tindakan Yesus ini tentu tidak lahir sedemikian rupa begitu saja. Namun seperti yang diserukan oleh Bartimeus, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku”, keseluruhan tindakan ini didasari oleh belas kasihan Yesus. Hal ini sejalan dengan berbagai tindakan mujizat yang Yesus lakukan dalam berbagai kesempatan lainnya. Misalnya saja dalam kisah pemberian makan bagi lima ribu orang. Mujizat yang Yesus lakukan bagi orang banyak tersebut sama sekali bukan sebuah demonstrasi kuasa atau wujud pamer kehebatan, melainkan merupakan tindakan yang lahir dari belas kasihan Yesus terkait penderitaan dan pergumulan orang banyak (Mrk. 6:34;  bnd. Mrk. 1:40).

Sehubungan dengan itu, sangat tepatlah apa yang dikemukakan oleh Paus Benedictus XVI dalam Ensiklik sosial barunya (29 Juni 2009), yakni "Caritas in Veritate" (Kasih Dalam Kebenaran). Menurutnya, kasih (caritas) memang merupakan inti dari ajaran sosial gereja. Kasih tidak hanya harus berdampak bagi kehidupan pribadi atau keluarga, melainkan juga dalam kehidupan sosial ekonomi dan politik secara lebih luas. Oleh sebab itu, setiap umat manusia sebagai penerima kasih Allah, hendaknya pula bisa menjadi pewarta kasih Allah. Kasih yang dimaksudkan di sini tentu saja bukan sebuah perasaan sentimentil belaka. Lebih dari itu, kasih haruslah terwujud dalam sebuah perilaku yang tidak memperlakukan manusia sebagai alat belaka, melainkan menempatkan umat manusia sebagai sumber, fokus dan tujuan dari segenap kehidupan sosial ekonomi.[v] Oleh sebab itu, logika kontrak ekonomis (“do ut des”: aku beri supaya kau beri) dan logika koalisi politis (aku beri karena kepentingan politis mewajibkan aku memberimu), jelas tidak memadai untuk membangun kehidupan manusia yang lebih baik. Lebih dari itu, sikap batin cinta kasih (aku beri karena aku mencintaimu dan baiklah bahwa aku memberimu) hendaknya menjadi dasar utama segenap kehidupan manusia.[vi]

Oleh: Pdt. DR. Alfred Anggui


[i] Ignas Kleden, “Epistemologi Kekerasan di Indonesia” dalam Demokrasi, Kekerasan, Disintegrasi (Jakarta: Kompas, 2001), hlm. 40.

[ii] Sri Palupi, “Pilot yang Salah Naik Pesawat” dalam Kompas 2 Februari 2012, hlm.6.

[iii] Bnd. Marcus J. Borg, Kali Pertama Jumpa Yesus (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), hlm.65.

[iv] Bnd. Richard Horsley, Jesus and the Spiral of Violence (Minneapolis: Fortress Press, 1993), hlm. 224.

[v] Encyclical Letter Caritas In Veritate of The Supreme Pontiff Benedict XVI To The Bishops Priests And Deacons Men And Women Religious The Lay Faithful And All People Of Good Will On Integral Human Development In Charity And Truth http://www.vatican.va/holy_father/benedict_xvi/encyclicals/documents/hf_ben-xvi_enc_20090629_caritas-in-veritate_en.html (akses 6 Desember 2011) 


Bagikan