IMAN DAN KESEMBUHAN

Sepenggal kisah hidup beriman

Seorang ibu yang bergumul dengan penyakit anaknya, pernah bertanya seperti ini, ”Pak Pendeta, sebenarnya apa yang kurang dari iman saya, sehingga anak saya tidak sembuh-sembuh juga?” Pertanyaan tersebut muncul, sebab sang ibu sudah merasa sungguh-sungguh berserah kepada Tuhan, sementara di sisi lain sang anak tak kunjung sembuh. Yang kemudian menjadi soal lebih jauh, oleh beberapa keluarga sang ibu juga lantas diberi label ”kurang beriman” bertolak dari kenyataan penyakit anaknya yang tak kunjung sembuh. Bisa dibayangkan bagaimana beban sang ibu! Selain bergumul dengan penyakit anaknya, ia pun juga dituding sebagai pihak yang ikut bertanggung jawab atas ketidaksembuhan anaknya! 

Iman dan Ksembuhan

Lain lagi dengan pergumulan seorang istri yang suaminya menderita sakit parah dan kemudian meninggal. Selain bergumul luar biasa dalam merawat sang suami, sang istri juga harus menanggung beban berupa dakwaan sejumlah keluarga yang berpendapat, bahwa sang suami sakit karena dosa-dosanya. Perasaan sang ibu mungkin mirip dengan perasaan Ayub saat menghadapi tudingan yang angkuh dan menghakimi dari sahabat-sahabatnya, justru di saat ia sedang berhadapan dengan penderitaan yang bertubi-tubi! 

Sebenarnya bagaimana kesaksian Alkitab tentang hubungan antara iman dan kesembuhan, serta dosa. Jikalau keseluruhan Alkitab (bukan sepenggal-sepenggal) dibaca dengan baik, maka Alkitab sendiri paling tidak mencatat 3 (tiga) model tentang hubungan antara iman dan kesembuhan, yakni :

# Iman yang membawa pada kesembuhan

Kisah seorang perempuan Kanaan yang terus mengejar Tuhan Yesus guna memohon kesembuhan bagi anaknya perempuan yang kerasukan setan (Mat. 15 : 21-28), bisa menjadi contoh! Kegigihan sang ibu untuk terus berteriak dan memohon belas kasihan Tuhan Yesus, kemudian berujung jawaban Yesus padanya : ”Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kau kehendaki”. Dan seketika itu juga anaknya sembuh! 

Beberapa kisah lain dalam alkitab juga menegaskan hal tersebut! Seorang ibu yang sudah 12 tahun sakit pendarahan dan kemudian datang menjamah jubah Tuhan dengan iman : ”asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh”, juga beroleh respons serupa dari Yesus. Kepada wanita tersebut Yesus berkata, ”Hai anakku, imanmu telah menyelamatkan engkau!” (Mrk. 5 : 25-34). Demikian pula dengan si lumpuh yang digotong oleh empat temannya dan dibawa pada Yesus melalui atap rumah (Mrk.2:1-12). Dalam kisah tersebut terlihat, kesembuhan si lumpuh diawali dengan sebuah catatan penting, yakni ”Ketika Yesus melihat iman mereka...”. Iman yang kemudian berujung pada kesembuhan!

# Ber-Iman namun tidak sembuh :

Alkitab ternyata mencatat pula model hubungan seperti ini! Pergumulan Paulus mungkin bisa menjadi contoh! Kepada jemaat di Korintus, Ia bercerita tentang penyakitnya, yakni sebuah duri dalam dagingnya! Menurut Paulus, ”tentang hal itu, aku sudah tiga kali berseru pada Tuhan...”, tetapi jawab Tuhan, ternyata adalah Tidak! ”Cukup sudah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2Kor.12:8-9)! Apakah Paulus kurang berdoa dan kurang beriman, sehingga ia tidak beroleh kesembuhan dari Tuhan. Tentu saja tidak. Iman sang Rasul tentu saja tak perlu diragukan. Lebih dari itu, ia pun sesungguhnya berkali-kali menyembuhkan banyak orang. Di Listra, Paulus pernah menyembuhkan seorang yang lumpuh sejak lahirnya (Kisah 14:8). Bahkan, saputangan atau kain yang pernah dipakai Paulus pun digunakan orang untuk menyembuhkan orang-orang (Kisah 19:11-12). Tidakkah luar biasa kuasa Allah yang bekerja dalam diri Paulus? Lalu jika Paulus sendiri ternyata tidak beroleh kesembuhan meskipun ia sendiri berulang kali menyembuhkan orang lain, pesannya tentu saja jelas, yakni iman ternyata tidak selalu harus berujung pada kesembuhan. Rencana anugerah Tuhan ternyata jauh lebih besar dan indah dari pada sekedar sebuah kesembuhan saja! Tidak heran, tiga orang sahabat Daniel yang diancam untuk dibuang ke dalam dapur api, berkata pada Nebukadnezar, ”Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.". Terlihat jelas sebuah ungkapan iman! Hidup itu penting, tapi yang jauh lebih penting adalah relasi dengan Tuhan dalam hidup itu sendiri. Kesembuhan itu penting, tetapi yang jauh lebih penting adalah kesadaran akan kasih setia Tuhan dalam kelemahan yang dialami! Kalau Tuhan ingin membuat kita lebih mengenal kuasa dan kasih-Nya melalui kelemahan dan sakit kita, maka kita tentu harus bisa tetap setia seperti Paulus.

# Tidak Ber-Iman, namun sembuh :

Hal ini mungkin terdengar aneh, namun memang begitulah keadaannya! Alkitab juga jelas mencatat model relasi iman dan kesembuhan seperti ini. Yang mungkin jadi soal, ialah ada orang yang suka memilih-milih begian alkitab sesuai dengan selera dan keinginannya sendiri. Kisah kesembuhan seorang pengemis yang lumpuh sejak lahirnya, bisa menjadi contoh. Kepada Petrus dan Yohanes yang ia temui di depan Gerbang Indah Bait Allah, sang pengemis mengulurkan tangan meminta sedekah! Yang ia minta hanyalah sedekah! Tak ada petunjuk sama sekali, bahwa ia punya iman! Petrus dan Yohanes yang masuk ke Bait Allah, dilihat tak ubahnya seperti pemberi-pemberi sedekah lainnya. Namun apa yang kemudian ia terima? Ternyata sebuah kesembuhan (Kisah 3:1-10)! Kepada sang pengemis, Petrus berkata : "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!" Ia menerima lebih dari yang ia minta, meskipun sang pengemis jelas-jelas tak memiliki iman.

Kisah penyembuhan di Kolam Betesda juga memperlihatkan hal serupa (Yoh.5:1-18). Seseorang yang telah menderita sakit selama 38 tahun disembuhkan oleh Yesus, meskipun ia sendiri sesungguhnya tidak punya iman. Bahkan jangankan iman, si sakit bahkan sama sekali tidak mengenal Yesus yang telah menyembuhkannya: Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu (Yesus), sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu (Yoh.5:13).

Hal ini mungkin kedengaran aneh dan sulit diterima! Namun coba simak baik-baik, bukankah Yesus sendiri mengatakan, bahwa Bapa di sorga menerbitkan matahari dan menurunkan hujan, tidak hanya untuk orang benar, tetapi juga untuk orang yang tidak benar (Mat. 5 : 45)? Realitas kehidupan sekitar, sesungguhnya juga bisa memperlihatkan hal tersebut! Banyak orang yang tidak beriman, namun tidakkah mereka juga sembuh?

Jika memang demikian adanya, lalu bagaimana? Apakah ini berarti iman lantas tidak lagi penting? Tentu saja tidak! Bukankah alkitab mencatat sebuah hal penting, bahwa manusia dibenarkan oleh iman (Rm.3:28)? Tuhan jelas menanti iman setiap anak-anak-Nya! Hanya saja perlu diingat, bahwa iman tidak bisa dinilai berdasarkan sembuh tidaknya seseorang! Kisah kesepuluh orang kusta yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus (Luk.17:11-19) bisa menjelaskan hal tersebut!  Dari sepuluh orang yang datang pada Tuhan meminta kesembuhan, semuanya disembuhkan! Namun demikian, dari  kesepuluh orang yang disembuhkan, berapa yang disebut beriman? Ternyata hanya satu orang, yakni dia yang kembali mengucap syukur pada Tuhan. Iman ternyata bukan soal sembuh atau tidak! Yang membedakan orang beriman dan tidak beriman, bukan pada soal apa yang dialami, melainkan pada kemampuan menghayati karya Allah dalam berbagai pergumulan hidup!

Di sisi lain, kesembuhan juga harus diterima sebagai sebuah anugerah Tuhan semata. Seorang anak muda di Nain dibangkitkan kembali oleh Yesus, karena hati Yesus tergerak oleh belas kasihan (Luk.7:13)! Karenanya kesembuhan selalu harus diterima dengan penuh rasa syukur, dan bukan dengan sebuah kesaksian yang kadang disisipi dengan sebuah keangkuhan iman! Sebaliknya, penyakit yang dialami juga selalu harus dilihat dalam terang kasih Tuhan! Sebuah penyakit memang bisa saja merupakan akibat dosa, yang pada gilirannya jelas menuntut introspeksi dan memperlihatkan kerinduan Allah untuk menyaksikan pertobatan setiap manusia untuk kembali pada Tuhan! Namun di sisi lain, dapat pula dipahami sebagai tempat Allah hendak menyatakan kuasa-Nya di tengah umat manusia! Jadi selamat bergumul dalam Iman! 

Oleh : Pdt. DR. Alfred Anggui


Bagikan