MENGINTIP DARI HATI ​​​​​​​(Meneropong  spiritualitas pelayanan penatua dan diaken) Oleh: Pdt. Daud

A. Apa yang sedang terjadi

Dinamika pelayanan Penatua dan Diaken di tengah-tengah jemaat sangatlah variatif. Dinamika-dinamika tersebut juga terkait dengan sumber daya Penatua dan Diaken yang juga variatif. Kita tak dapat menutup mata bahwa di beberapa jemaat Penatua dan Diaken sering bertindak seperti penguasa walaupun di beberapa jemaat yang lain para Penatua dan Diaken telah mengurus pelayanan dengan  tindakan-tindakan pelayanan yang berhati gereja.

Pada keadaan-keadaan tertentu  sejumlah pribadi Penatua dan Diaken seringkali  tidak bisa membedakan keberadaannya sebagai Penatua dan Diaken dengan jabatan yang melekat pada dirinya. Bahkan sering “kehilangan kesadaran” bahwa posisinya sebagai orang-orang yang di tempatkan Tuhan di tengah-tengah jemaat sebagai Penatua atau Diaken, berbeda dengan cara kerja ketika melaksanakan tugasnya di luar gereja. Akibatnya  tidak sedikit Penatua dan Diaken bertindak semaunya karena memposisikan dirinya sebagai pribadi yang lebih pintar, kaya atau merasa memiliki nama besar di tengah-tengah jemaat atau di lingkungan sekitar dalam masayarakat sosial. Mereka hampir-hampir tidak memahami bahwa untuk mengurus gereja hanya di butuhkan orang-orang yang berhati gereja.

Tidak sedikit Penatua atau Diaken yang akhirnya mengalami kelelahan batin karena terdapatnya rekan sepelayanan yang selalu merasa sebagai pribadi yang lebih dari yang lain. Keterpilihannya sebagai Penatua atau Diaken sering di lihat sebagai senjata yang ampuh untuk mempertegas bahwa dia adalah pribadi yang dibutuhkan, sehingga tanpa dirinya segala sesuatu yang di kerjakan dianggap tidak akan memberi dampak yang maksimal.

Secara umum, keterpilihan seseorang menjadi Penatua atau Diaken dikarenakan karena warga jemaat melihat adanya “kemampuan” yang melekat pada diri seseorang. Hanya saja seberapa tuluskah Penatua dan Diaken menghargai dan merenungkan pilihan itu sebagai anugerah Allah melalui warga jemaat yang di nyatakan terhadap dirinya, karena semua bentuk pelayanan yang dilakukan akan bermuara pada Tuhan sebagai sumber anugerah yang satu-satunya.

Penting untuk di hayati bahwa jati diri seorang penatua atau diaken barulah nampak ketika mampu menghidupi kepelayanannya sebagai seorang Penatua atau Diaken dalam setiap sisi kehidupan. Dalam hal ini Yesus berkata :

 

"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."

 

Menjadi “garam” dan menjadi “terang” adalah simbolisasi dari sebuah kehidupan “keteladanan” yang harus di miliki oleh para penatua dan diaken. Menjadi “garam atau menjadi “terang” adalah sebuah penegasan bahwa seorang Penatua atau seorang Diaken hendaknya menjadi pribadi yang terus-menerus memuliakan Tuhan dalam segala bentuk kepelayanannya, dan bukan untuk mencari pujian serta memulikan dirinya ketika berhasil melaksanakan tugasnya. Dalam hal ini, Penatua dan Diaken diharapkan mampu berperan dan berpengaruh baik dalam kehadiran kepelayanannya dalam setiap konteks agar Allah di muliakan melalui hal baik yang mereka lakukan, karena “garam Penatua” atau “garam Diaken” dan “terang Penatua” atau “terang Diaken” baru ada dampaknya melalui perbuatan dan ucapan.[1]

Menghidupi tanggung jawab sebagai Penatua dan Diaken, tidak terlepas dari berbagai macam masalah yang melingkupi kehidupan kepelayanannya. Bahkan ketika menghadapi masalah, tidak sedikit penatua atau diaken yang justru mengunci hatinya dalam pertemuan-pertemuan yang di lakukan setiap hari minggu. Mereka hadir beribadah, mereka melaksanakan tugas yang terjadwal tetapi sesungguhnya ia sedang mengunci hatinya terhadap hal-hal yang perlu di bicarakan. Tangannya bergerak maju melaksanakan tanggung jawabnya, tetapi hatinya menyembunyikan perasaan yang mungkin menyakitkan. Inilah yang disebut dengan penyalagunaan spiritual bahkan mungkin topeng spiritual karena mungkin ia sedang berpikir bahwa apa kata orang jika dirinya tidak tampil melaksanakan tugasnya dan tidak berpikir apa kata Tuhan jika ia tampil melaksanakan tanggung jawabnya. Spiritual tersebut sesungguhnya sedang mengalami kebimbangan yang membutuhkan penyembuhan batin agar luka batinnya tidak di bungkus dengan kesalehan yang nampak dengan tampil melaksanakan tugas-tugas kepenatuaan atau tugas-tugas yang terkait dengan diaken.

Ada begitu banyak Penatua dan Diaken yang sedang melaksanakan tugasnya dengan topeng rohani, walaupun tindakan itu adalah motivasi yang keliru. Mengapa? karena segala yang di lakukan hanya terkait dengan kebanggaan  diri dan penilaian orang lain dan bukan mengajak orang lain untuk memuliakan Tuhan sebagai pokok utama.

Di beberapa jemaat, para Penatua dan Diaken sedang mengalami kekeringan rohani karena semua bentuk pelayanan yang di lakukan hanyalah rutinitas semata dan tidak memberikan pertumbuhan rohani. Bahkan ketika hari minggu tiba, lonceng dibunyikan, majelis gereja kumpul dan berdoa di konsistori, ibadah berlangsung dengan pesan-pesan khotbah, hingga akhirnya berkat di ucapkan, lalu berkumpul lagi di konsistori, bahkan sebelum “doa penutup” di konsistori biasanya masih ada beberapa hal yang di bicarakan terkait dengan keberadaan jemaat dan pelayanan yang justru sering menimbulkan kegaduhan, hingga akhirnya sejumlah Penatua dan Diaken kembali dengan amarah dan sakit hati.

Pada sisi tertentu banyak Penatua dan Diaken yang membungkus kesalehannya dengan rajin ke gereja ataupun rajin melaksanakan tugasnya tetapi tidak mampu merubah kedalaman hatinya untuk membangun kehidupan “kesalehan” bersama dengan seisi rumahnya untuk lebih rendah hati bersekutu di hadapan Tuhan. Inilah yang disebut sibuk rohani walaupun sesunguhnya tidak sehat rohani.

 

B. Bagaimana Menghidupinya

Pertanyaan penting yang perlu di maknai adalah mengapa anda di pilih oleh warga jemaat menjadi Penatua atau Diaken? Mengapa bukan yang lain? Mengapa warga jemaat tidak memilih yang  lebih kaya, yang lebih pintar, yang lebih berani atau yang lebih miskin?. Pertanyaan inilah yang perlu dijawab oleh kedalaman hati, karena banyak orang yang mau menjadi Penatua atau Diaken tetapi warga jemaat tidak memilihnya. Jika demikian, mengapa anda terpilih?

Kita perlu mencamkan bahwa, ketika akan dilakukan pemilihan raja di Israel (1 Samuel 16:1-13), maka Tuhan berfirman kepada Samuel  untuk pergi menjumpai Isai  dan anak-anaknya di Betlehem. Ketika  itu, tampillah Eliab yang perwakannya tinggi dan elok parasnya, tetapi Tuhan berkata: “Jangan pandang parasnya dan perwakannya yang tinggi, sebab Aku menolaknya.”. Bukan yang di lihat manusia yang di lihat Allah, karena manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati (bnd.ayat 7). Lalu Isai memanggil anak yang lain yakni Abinadab, tetapi Samuel berkata: “Orang ini pun tidak di pilih Tuhan”. Kemudian Isai memanggil anakyna yang lain yakni Syama, tetapi Samuel berkata: “Orang ini pun tidak di pilih Tuhan.” Sampai anak ke tujuh Samuel selalu berkata: “Orang ini tidak di Tuhan.”. Namun masih ada satu orang anak bungsu  yang sebelumnya tidak di perhitungkan karena sedang mengembalakan domba, ia kemerah-merahan, matanya indah, dan parasnya elok. Lalu Tuhan berkata:”Bangkitlah,urapilah dia, sebab inilah dia”.(ayat 12).

Dari kisah di atas kita dapat belajar bahwa menjadi Penatua atau menjadi Diaken bukanlah soal kaya atau miskin, pintar atau bodoh, berani atau tidak berani, berwibawah atau tidak berwibawah, tetapi semua karena kehendak Tuhan. Dengan demikian janganlah memandang rendah keterpilihan itu, karena anda sedang di percaya oleh Tuhan untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan. Tidak semua orang di percaya oleh Tuhan untuk mengerjakan pekerjaan-Nya, karena itu terimalah dan hidupilah jabatan itu sebagai anugerah dari Allah karena Dia sendirilah yang akan memberikan kemampuan setiap kali kita melaksanakan tanggungjawab yang di berikan kepada kita. Mungkin kita sedang berpikir kesulitan dan ketidakmungkinan, tetapi ingatlah bahwa apa yang tidak mungkin menurut kemampuan kita tetapi jika segala sesuatu di kerjakan  sesuai kehendak Allah maka segala yang tidak mungkin menurut logika kita akan menjadi mungkin dalam perkenaan Allah.

Kita dapat menghayati bahwa menjadi Penatua dan Diaken adalah bagaian dari rahmat Allah yang di berikan kepada setiap orang untuk menyelenggarakan pelayanan yang dapat menciptakan pertumbuhan iman warga jemaat. Keterpilihan seseorang menjadi penatua atau diaken itu bukan karena dirinya tetapi karena anugerah Tuhan. Itu berarti harus di yakini  bahwa setiap orang yang terpilih menjadi Penatua atau Diaken dinilai memiliki kemampuan untuk dapat melakukan tindakan pelayanan yang berdampak baik terhadap orang lain.

Terkait dengan hal di atas, kita dapat melihat anugerah insaniah sebagai anugerah umum yang merupakan potensi kemampuan anugerah Allah yang di berikan kepada manusia yaitu[2]:

  1. Kemampuan hidup dan bersemangat:  

Inilah daya, energi penting yang selalu berkehendak untuk terus bertahan hidup (sintas)[3] bertumbuh dan berkembang. Inilah daya ajaib yang terus menerus melindungi kita dari segala macam bahaya dan yang membimbing kita menjadi semakin sempurna.

  1. Kemampuan berbahasa:

Kecakapan berkomunikasi secara canggih, kaya penuh nuansa, baik dengan diri sendiri, dengan sesame, dengan mahluk lain, khususna kepada Tuhan

  1. Kemampuan beriman dan berpengharapan:

Kesanggupan untuk tetap optimis (yakin) dan merasa mantap di tengah ketidakpastian dan ketidakjelasan, serta keyakinan pada realitas di luar kesadaran dan indra manusia, khususnya pada realitas ilahi.

  1. Kemampuan berkehendak bebas:

Kesanggupan mengambil pilihan dan tindakan secara bebas atas alternatif-alternatif yang tersedia serta kemampuan menolak tunduk pada apa pun dan siapa pun yang memaksa kita.

  1. Kemampuan mengasihi:

Kerelaan berkorban dengan penuh sukacita untuk sesuatu atau seseorang yang tercinta, dan kemampuan untuk menghayati pengalaman-pengalaman ekstatik[4] yang indah dan membahagiakan.

  1. Kemampuan berhati nurai:

Kesanggupan memahami ihwal benar-salah, buruk-baik, dan adil-batil serta memusatkan diri pada pengetahuan itu.

  1. Kemampuan berimanjinasi penuh kreasi:

kesanggupan membayangkan dan menciptakan gagasan-gagasan mental guna memecahkan berbagai masalah, mencari terobosan keluar dari belenggu lelaziman, membuat lompatan kuantum dari pengap kebiasaan, serta membuka diri pada realitas luhur, khususnya realitas ilahi.

  1. Kemampuan berkesenian:

kesanggupan mengekspresikan diri secara artistic dan menghayati semua sensasi estetik yang bersumber dari luar maupun dari dalam diri kita.

  1. Kemampuan berpikir kreatif- inovatif:

Kesanggupan tertawa dan menertawakan diri; menciptakan gagasan yang baru, unik, dan penuh warna; serta merancang ide-ide yang lebih berguna.

  1. Kemampuan berpikir prespetual-konseptual:

Kesanggupan menyusun serpihan-serpihan ide menjadi bangunan gagasan yang lebih besar dan canggih.

  1. Kemampuan bernalar-rasional:

Kesanggupan memahami dan merumuskan kosmos batiniah (internal) dan kosmos material (eksternal) secara nalar dan rasional.

 

Semua bentuk-bentuk kemampuan di atas adalah anugerah Allah dalam diri manusia yang dapat di gunakan untuk menata pelayanan di tengah-tengah kehidupan jemaat. Selain kemampuan umum di atas, maka sesungguhnya para Penatua dan Diaken juga di berikan anugerah khusus yang tidak di miliki oleh orang lain selain dirinya dan hal itu melakat dalam hidup setiap orang.

Untuk itu, hidupilah dan kerejakanlah pekerjaan Allah yang telah di nyatakan kepada anda karena itu berarti Tuhan sedang memberi kepercayaan kepada anda untuk melakukan kehendak-Nya di tengah-tengah jemaat. Hanya saja janganlah menggunakan jabatan itu dengan dengan kesewenang-wenangan karena akan mendatangkan dosa dalamhidup anda.

Melayani Tuhan mungkin tidak semudah yang kita pikirkan, karena di depan sana ada sejumlah tantangan yang akan anda hadapi. Tetapi ingatlah Firman Tuhan bahwa: “Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya (Mazmur126:6). Itu artinya menjadi Penatua atau Diaken membutuhkan semangat kerja yang melayani sekaligus memiliki kerendahhatian karena Roh Kudus-Nyalah yang akan memberikan kekuatan kepada anda melaksanakan tanggungjawab yang telah di percayakan kepada anda.

Kerjakanlah bagian Tuhan maka Tuhan pun akan mengerjakan bagian anda. Mungkin anda merasa bahwa menjadi Penatua atau Diaken untuk mengurus dan mengerjakan pekerjaan Tuhan akan mengganggu kelangsungan hidup keluarga,ataupun mungkin anda merasa rugi mengurus pekerjaan Tuhan, tetapi ingatlah Firman Tuhan bahwa: “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; (Mazmur 37:25). Inilah keyakinan kita bahwa apa yang baik yang kita lakukan maka sesunggunya Tuhan akan terus menyatakan kasih dan anugrah-Nya kepada anda dan kepada keturunan anda. Karena itu, Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. (Galatia  6:9).

 

 

[1] Bnd.Jhon Stott,Khotbah di bukit,(Yayasan Komunikasi Bina Kasih,2012).h.91

[2] Jansen Sinamo,Teologi Kerja Modern dan Etos Kerja Kristiani (Grafika Mardi  Yuana,Bogor) h.143-144

[3] Sintas: Terus bertahan hidup, Mampu mempertahankan keberadaannya

[4] Ekstatik : Senang sekali (Gembira yang luar biasa)


Bagikan